Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Baginda Rosululloh SAW dilahirkan pada pagi hari Senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 Masehi. Menjelang dan saat dilahirkan Beliau, banyak terjadi hal-hal yang luar biasa sebagai ungkapan selamat datang dari alam semesta.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Baihaqi dari Fatimah binti Tsaqifah, beliau berkata; “Ketika saya menghadiri kehadiran (kelahiran) Nabi, saya melihat rumah (Tempat Nabi lahir) dipenuhi sinar, dan saya melihat bintang-bintang mendekat sehingga saya mengira bintang-bintang itu akan jatuh ke rumah tersebut.” Diriwayatkan pula ketika Siti Aminah melahirkan Rosululloh, beliau melihat cahaya yang dengan cahaya itu kelihatan jelas Istana di Syam. Padahal ketika itu beliau berada di Makkah. Dan pada malam kelahiran beliau, bumi bergetar, dengan getaran yang sangat dahsyat, sehingga meluluh lantahkan seluruh berhala yang ada disekitar ka’bah dan merobohkan gereja-gereja serta Istana raja Persia, dan juga mematikan api yang selama itu disembah oleh warga Persia.
Dari segi Nasab, Rosululloh terlahir dari keturunan yang memiliki prestise tinggi. Ayahnya Abdullah adalah keturunan Bani Hasyim, kabilah arab yang sangat disegani pada saat itu. Sedangkan ibunya, Siti Aminah tergolong bangsawan Quraisy yang sangat terpandang. Abdullah dan Aminah tidak termasuk golongan penyebah berhala. Sabda Rosululloh : “Sesungguhnya Alloh telah memilih dari anak-anak Ibrahim yaitu Ismail, Dan memilih dari anak-anak Ismail yaitu Kinanah, Dan memilih dari Bani Kinanah yaitu Suku Quraisy, Dan memilih dari Suku Quraisy yaitu Bani Hasyim, dan Alloh memilihku dari Bani Hasyim.”
Jadi Rosululloh adalah orang terpilih dari golongan-golongan terpilih.
Setiap bulan Rabiul Awwal tampak kesibukan menonjol di sebagian kaum muslim di Indonesia dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Masing-masing daerah memliki cara tersendiri dalam memperingati hari kelahiran Manusia Agung itu, walaupun sering terjadi tatacara yang tidak ada hubungan langsung dengan peringatan itu.
Bulan tersebut oleh orang sunda disebut Bulan Mulud dan peringatannya disebut Muludan. Di Banten ribuan orang berduyun-duyun mendatangi kompleks Masjid Agung Banten Lama, mereka berziarah ke makam para sultan Banten, sebagian diantaranya ada yang berendam di kolam masjid itu guna mendapatkan berkah, ada pula yang mengambil airnya untuk dibawa pulang.
Di Cirebon pada bulan Rabiul Awwal, setiap tahunnya diadakan upacara Pajang Jimat, yakni memandikan pusaka-pusaka keraton peninggalan Sunan Gunung Djati. Banyak orang berebut air bekas cucian benda pusaka tersebut yang dipercaya mendatangkan keberuntungan.
Di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta perayaan Maulid dikenal dengan istilah Sekaten. Konon istilah ini berasal dari Syahadatain, yaitu pengakuan manusia Tiada Tuhan selain Alloh dan Nabi Mummad utusan Alloh.
Kemeriahan peringatan pun terjadi dibeberapa daerah diantaranya, di Aceh, Lombok, Madura, Sumatera Barat, dan tempat-tempat yang lainnya.
Sejalan dengan perayaan Maulid Nabi, dibacakan pula Barzanji sebuah karya tulis seni sastra Syekh Ja’far al-Bazanji bin Husin bin Abdul Karim, beliau lahir di Madinah pada tahun 1690M dan meninggal tahun 1766M. Isi kitabnya bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad , silsilah keturunannya, masa anak-anak, remaja, dewasa hingga diangkat menjadi rosul. Mengisahkan pula tentang sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi yang patut diteladani.
Al Barzanji diambil dari nama sebuah daerah di Kurdistan, Barzinj. Tempat kediaman Syekh Ja’far. Karangan aslinya berjudul Al Iqdul Jawahir yang artinya kalung Permata, disusun untuk meningkatkan kecintaan manusia kepada Nabi Muhammad SAW.
Pada perkembangan berikutnya, Barzanji dibaca diberbagai kesempatan sebagai sebuah pengharapan untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik. Misalnya dalam acara aqieqah (Umur bayi 7 hari) bayi dipangku dikelilingkan dan dicukur rambutnya oleh hadirin sambil membaca barzanji. Begitu juga dalam acara khitanan, pernikahan, selamatan panen, selamatan rumah dan lain-lain.
Sejarah mencatat, bahwa peringatan Maulid Nabi pertama kali diadakan dan diperkenalkan oleh seorang penguasa Dinasti Fatimiyah (909-1117M), jauh sebelum Al Barzanji dibuat, peringatan ini saat itu dilaksanakan mengandung unsur politisnya yaitu sebagai sarana mempertahankan kekuasaan dan penjelasan bahwa Dinasti Fatimiyah adalah dinasti keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.
Kemudian peringatan Maulid Nabi kerap kali dilakukan di berbagai belahan dunia setelah Abu Said Al Kokburi, Gubernur Irbil Irak, memperkenalkan peringatan ini pada masa pemerintahan Sultan Shalahudin Al Ayyubi (1138-1193M). Tujuan peringatan Maulid pada saat itu dalam rangka memperkokoh semangat keagamaan dan meningkatkan mental tentara dalam menghadapi tentara Nasrani dari Eropa dalam perang salib.
Sejak awal peringatan Maulid Nabi mengalami pro dan kontra , mazdhab syafiiyah menjelaskan dukungannya dan menganggap hal yang syah-syah saja dilakukan. Mazdhab Malikiyah berargumentasi menolaknya, begitu juga “kaum reformis” Wahabi bereaksi dengan tegas bahwa peringatan Maulid Nabi adalah sesuatu yang mengada-ada(Bid’ah).
Perbedaan ini sampai pula ke Indonesia, bahkan tidak jarang menjadi penyebab perang mulut, saling ejek.
Biasanya tema ini disatukan dengan tahlilan ketika ada yang meninggal, atau qunut tatkala sholat subuh, atau juga disatu paketkan dengan boleh dan tidaknya ada Bedug di Masjid.
Perayaan peringatan Maulid Nabi yang menjadi sorotan di Indonesia adalah masuknya tradisi-tradisi yang dapat merusak makna maulid itu sendiri. Misalnya kegiatan tersebut dicampurkan dengan tradisi mistik atau tradisi khas budaya Islam Jawa, memandikan pusaka, mempertontonkan hiburan jaipongan, tari dan dangdut yang erotis, perjudian terselubung, dan lain sebagainya.
Agar kita tidak terjerumus kepada perbuatan syirik, sebaiknya kita memperingati maulid Nabi Muhammad SAW tidak secara berlebihan, melakukan sunnahnya akan lebih baik sebagai penghormatan atas kelahirannya, tidak dengan cara-cara yang tidak disyariatkan dalam Islam.

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Agama Islam dan tag . Tandai permalink.