Ancaman Teroris Akan Terus Ada

JAKARTA (SI) – Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum,dan Keamanan Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai mengidentifikasi, sel-sel terorisme terutama di Jawa, masih aktif dan sangat berpotensi menjadi ancaman di kemudian hari.

Ancaman semakin kuat dengan munculnya selsel baru di daerah bekas konflik seperti Aceh. “Di Aceh, dulu GAM menolak masuknya kelompok ini, tapi sekarang nyatanya sudah ada di sana dan ancaman terus akan ada meskipun figur-figurnya tertangkap ataupun tertembak mati,”ujarnya kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Jakarta, kemarin. Mantan Kapolda Sumatera Utara itu menjelaskan, eksistensi teroris tidak terlepas dari adanya tokoh-tokoh militan yang belum tertangkap, baik yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah (JI) maupun non-JI.

“Mereka berasal dari JI yang telah berlatih di Afghanistan, kemudian sudah terbukti terlibat dalam konflik di Ambon dan Filipina. Termasuk dari Moro tokohtokoh di situ kan terlibat di Aceh juga,”tambahnya. Selain itu, kekuatan mereka didukung banyak mantan narapidana yang terkait dengan terorisme. Napi teroris yang sudah bebas ini kembali bergabung dengan kelompok teroris. Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Wawan Purwanto optimistis kekuatan teroris bisa dieliminasi.Menurutnya, jika aparat keamanan secara terusmenerus melakukan perburuan, ruang gerak teroris bisa semakin sempit dan pada akhirnya kekuatan mereka lemah karena kekurangan logistik. “Jika upaya pengejaran terus dilakukan,dalam waktu seminggu diperkirakan perlawanan mereka akan surut.

Tinggal menunggu waktu saja, kekuatan mereka sudah melemah,”katanya. Menurut Wawan, tulang punggung teroris saat ini berasal dari pejuang Morro,Filipina, termasuk di antaranya Umar Patek,Zulkarnaen, dan Zulkifli yang merupakan para pelaku bom Bali I pada 2002 silam. Wawan memperkirakan, saat ini Umar Patek disembunyikan anggota jaringan teroris menyusul banyaknya anggota yang ditangkap oleh aparat keamanan. ”Mereka terus melakukan koordinasi dan komunikasi, termasuk penggalangan anggota baru dengan cara klandestein,”ucapnya. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo juga meyakini narapidana teroris berpotensi sebagai pendukung kekuatan teroris.

Karena itu pihaknya akan memantau mantan terpidana teroris untuk mengantisipasi pergerakan jaringan terorisme.”Semua mantan terpidana kasus apa pun akan dipantau, termasuk kasus terorisme,” kata Kapolda di Semarang kemarin. Selain pemantauan, pihaknya juga akan melakukan pencatatan dan observasi secara menyeluruh. Ansyaad menyatakan, kekuatan terorisme yang sebenarnya sulit untuk diprediksi. Sebab, aktivitas mereka sangat berkaitan dengan ideologi. “Kalau kekuatan di lapangan mungkin bisa dihitung, tetapi siapa yang bisa menebak ideologi dan jalan pikiran,ini yang jadi masalah,”ujarnya. Keterkaitan antara ideologi dengan terorisme tersebut, lanjutnya, tampak jelas dengan kembali terlibatnya mantan narapidana terorisme.

Meskipun sudah pernah dihukum, mereka tetap kembali karena ideologi yang dianut.Menurutnya, inilah pekerjaan rumah (PR) pemerintah untuk melakukan deradikalisasi. “PR kita ke depan yang paling besar adalah bagaimana menetralisasi radikalisme itu. Ini juga sangat tergantung ke masyarakat sendiri, apakah masyarakat menolak atau menerima itu (ideologi radikal),” ujarnya. Ditambahkan Ansyaad, selama ideologi radikal ini terpelihara, sejauh itu pula terorisme akan tumbuh. Dalam pandangannya,semestinya ada pembinaan khusus yang dilakukan untuk melakukan rehabilitasi para mantan narapidana terorisme tersebut.Namun,sejauh ini, kata Ansyaad, belum jelas instansi mana yang akan menangani.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan sebuah badan khusus untuk mengoordinasi pencegahan dan pemberantasan terorisme. “Pada saat National Summit Oktober 2009 lalu tercetus upaya untuk membentuk sebuah badan pencegahan dan pemberantasan terorisme. Badan ini untuk mengoordinasikan instansi-instansi yang terkait melakukan upaya-upaya deradikalisasi. Badan ini sementara dalam proses pembentukan dan pasti akan terbentuk karena merupakan agenda dari Kabinet,”ujarnya. Ditanya mengenai munculnya kecaman beberapa pihak yang menyayangkan gembong teroris yang akhirnya ditembak mati polisi, dia mengakui kondisi ideal seorang pelaku kriminal, dalam hal ini pelaku terorisme,memang ditangkap dalam keadaan hidup.

Namun kondisi di lapangan sering memaksa aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan melumpuhkan pelaku terorisme. Apalagi, penyergapan terhadap pelaku terorisme juga merupakan pertaruhan nyawa yang besar bagi aparat keamanan.“Coba bayangkan polisi akan menangkap orang yang selama ini sudah tertanam memilih mati daripada ditangkap atau lebih baik dia meledakkan dirinya bersama polisi daripada tertangkap. Dalam kondisi ini apa yang harus dilakukan polisi? “Untuk menangkap teroris itu,polisi mempertaruhkan nyawa.

Kita sudah lihat polisi ada beberapa yang gugur. Jadi dalam kondisi seperti itu, kondisi ideal tersebut sulit berlaku,”ujarnya. Purnawirawan jenderal kelahiran Buton,Sulawesi Tenggara ini meyakini saat melakukan penembakan polisi tetap berpegang pada prosedur di mana pada prinsipnya penggunaan senjata merupakan pilihan terakhir dan untuk melakukan pembelaan. (pasti liberti/muhammad oliez)

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di Hukum Dan Kriminal dan tag . Tandai permalink.