Lagi, Pemerintah Didesak Tuntaskan Kasus Mei 1998

JAKARTA – Tragedi kerusuhan Mei 1998 lalu masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga ataupun kerabat korban meninggal. Untuk mengenang peristiwa itu, paguyuban masyarakat korban kerusuhan Mei ’98 menggelar malam renungan suci di Klender, Jakarta Timur.

Intinya satu, untuk kesekian kalinya mereka mendesak pemerintah menuntaskan penanganan hukum bagi terduga pelanggar HAM. Salah satunya soal kekerasan seksual terhadap wanita etnis Tionghoa.

“Sebaiknya pemerintah lebih serius lagi dalam menindaklanjutinya. Tugas negara adalah menyelidiki pelanggaran itu,” kata Wakil Ketua Komnas Perlindungan Perempuan, Desty Mudjiana, Jumat (14/5/2010) malam.

Menurut dia pemerintah semestinya memberikan pendidikan hukum kepada publik dengan cara mengungkap kebenaran dibalik tragedi berdarah tersebut.

“Sehingga masyarakat tidak lupa bahwa peristiwa itu memang pernah terjadi dan memberikan rasa keadilan kepada masyarakat terutama bagi keluarga korban,” sambungnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Paguyuban Korban Mei 1998, Maria Sunu. Dia meminta pemerintah memproses secara hukum pelaku kekerasan.  “Pelaku harus dihukum, dia yang membuat kerusuhan harus ditangkap,” ujarnya.

Maria sendiri kehilangan putranya Stevanus Sunu (16) saat terjadi kerusuhan di Citra Plaza, Klender, Jakarta Timur. Stevanus yang saat itu baru pulang sekolah ditemukan tewas akibat tindak kekerasan.

Selain menyuarakan tuntutan, renungan malam juga diisi aksi membakar lilin oleh puluhan orang yang tergabung dalam Paguyuban Korban Mei 1998. Turut hadir diantaranya perwakilan dari Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS), Gerakan Melawan Amnesia Sejarah (GEMAS), mahasiswa dari berbagai Universitas, seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Bung Karno (UBK). (frd)(hri

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di Hukum Dan Kriminal dan tag , . Tandai permalink.