Al-Qur’an Huruf Braille Kurang, Tunanetra Tadarus Bergantian

Medan – Puluhan tunanetra di Sumatera Utara (Sumut) menggelar tadarus membaca al-Qur’an. Sayangnya, jumlah al-Qur’an huruf braille kurang sehingga mereka harus tadarus bergantian.

Tadarusan tersebut dilakukan di kantor Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Daerah Sumut, Jl. Sampul, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Sabtu (14/8/2010) siang. Selain memberi kesempatan para tunanetra untuk membaca al-Qur’an huruf braille, acara juga dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim.

Karena jumlah al-Qur’an yang terbatas, penyandang cacat tunanetra membaca al-Qur’an huruf braille secara bergantian dipandu guru yang juga penyadang tunanetra. Sementara peserta lain, menyimak ayat-ayat al-Qur’an dengan cara mendengar. Khusus pada Ramadan ini, tadarus digelar tiap hari Sabtu, sekali dalam seminggu.

Pengurus Pertuni Sumut, Nurman Ritonga mengatakan, penyandang cacat tunanetra anggota Pertuni Sumut yang terdaftar beragama Islam lebih dari 500 orang. Sekitar 75 orang di antaranya ikut dalam pengajian yang digelar pada Selasa dan Kamis tiap pekannya.

“Animo anggota Pertuni sangat tinggi belajar membaca al-Qur’an. Tetapi jumlah al-Qur’an huruf braille sangat terbatas. Jadi terpaksa bergantian,” kata Nurman.

Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian khusus kepada tunanetra dengan menyediakan al-Qur’an huruf braille yang kini harganya masih tergolong mahal, yakni mencapai Rp 1,5 juta per eksemplar.

“al-Qur’an huruf braille yang kita miliki hanya sepuluh buah. Terpaksa membacanya bergantian,” tambah Nurman.

Dari puluhan peserta tadarusan, sebagian besar telah mengenal huruf al-Qur’an braille selama belasan tahun. Namun hanya sebagian kecil yang penah tamat membaca al-Qur’an (khatam).

Ridwan Hutabarat, misalnya, warga Jalan Sampul Medan ini mulai mengenal huruf braille sejak 15 tahun lalu. Namun dia belum pernah khatam membaca al-Qur’an. Penyebabnya penyandang cacat tunanetra tidak memiliki al-Qur’an secara pribadi.

“Saya baca al-Qur’an kalau datang ke pengajian saja. Sudah belasan tahun, tapi saya belum pernah khatam ngaji. Tidak mampu beli al-Qur’an sendiri,” kata Ridwan.

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di Campur dan tag , . Tandai permalink.