4. Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad-7 di Sumatra. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Budha yang terbesar. Kecuali itu menurut berita-berita Cina pada abad yang sama berdiri pula kerajaan Tulangbawang dan Melayu.

Tentang sejarang kerajaan Sriwijaya ini ada 2 sumber yang dapat untuk membuktikan adanya kerajaan tersebut yaitu:

a.       Tulisan bangsa Cina yang bernama I-Tsing.

I-Tsing menterjemahkan kitab-kitab suci agama Budha, dan bahasa sangsekerta  ke dalam bahasa Cina.

Perjalanan I-Tsing ke India dan Sriwijaya selanjutnya ditulisnya sendiri sebagai catatan yang bisa dijadikan sejarah untuk kerajaan Sriwijaya.

b.      Adanya lima buah prasasti di Sumatra.

Di Sumatra terdapat lima buah prasasti yang bertuliskan hurup Pallawa dengan bahasa melayu kuna. Prasasti-prasasti terdapat di kota Kapur (Bangka).

–          Karang Birahi (Jambi Hulu)

–          Dekat Palembang yaitu prasasti : Telaga Batu, Tulang Tao dan Kedukan Bukit.

Lima buah prasasti itu dapat pula dijadikan sumber untuk mempelajari Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya adalah pemersatu Indonesia yang pertama. Kerajaan Sriwijaya adalah merupakan kerajaan indonesia Budha yang terbesar dan mempunyai wilayah yang sangat luas.

Kerajaan Sriwijaya dengan angkatan perang yang kuat dengan kekuatan 20.000 orang tentara berhasil menaklukan beberapa daerah di Indonesia, bahkan sampai kerajaan Melayu dan Bangka berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Malaka, Jawa Barat pun juga dikuasainya. Oleh sebab itu semua kerajaan di Indonesia ini akan dipertahankan di bawah kekuasaan Sriwijaya, dengan kata lain Sriwijaya adalah pemersatu Indonesia.

Menurut prasasti di Sumatra, Ibukota Sriwijaya mula-mulanya terletak di Muara Takus. Kemudian pindah ke Jambi dan akhirnya pindah ke Palembang. Kerajaan Sriwijaya mempunyai arti dan peran yang penting sebab :

  1. Sriwijaya sebagai pusat ilmu pengetahuan. Sriwijaya adalah sebagai pusat ilmu pengetahuan agama budha. Suatu bukti bahwa pada waktu itu adanya tulisan dari bangsa Cina yang bernama I-Tsing, dan salah satu guru agama Budha yang terkenal pada waktu itu ialah “Sakyakirti”. Sriwijaya banyak didatangi pendeta dari negara lain. Semua pendeta Cina yang akan belajar ke Sekolah Tinggi Nalanda di India harus lebih dahulu belajar di Sriwijaya. Kecuali itu Sriwijaya juga merupakan pusat penyelidikan bahasa Sangsekerta. Suatu bukti bahwa pada waktu I-Tsing akan ke India, sebelumnya telah belajar tata bahasa Sangsekerta di Sriwijaya.
  2. Sriwijaya sebagai negara maritim yang mampu menaklukan samudra Nusantara. Adanya perdagangan laut di Sriwijaya yang cukup baik dan maju, sehingga armadanya mampu menaklukan dan menguasai seluruh lautan Nusantara. Oleh sebab itu negara Sriwijaya disebut negara Maritim, dan juga karena letak kerajaan Sriwijaya sangat praktis yaitu di tepi sungai Musi.
  3. Sriwijaya sebagai pusat perdagangan. Rakyat Sriwijaya hidupnya makmur, aman dan tentram. Sriwijaya menguasai perdagangan Asia Tenggara, sehingga Sriwijaya menjadi Negara perdagangan yang besar. Terutama pelayanan perdagangan antara Cina dan India selalu berhenti di Bandar Sriwijaya. Negara-negara lain di Asia pun juga memuat barang dagangannya dengan kapal di pelabuhan Sriwijaya.

Kemajuan-kemajuan kerajaan Sriwijaya sampai berakhirnya Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kemajuannya pada masa pemerintah Wangsa Syailendra. Rajanya yang cakap dan bijaksana ialah Balaputradewa. Beliau menjadi raja pada tahun 850 M. Negara Sriwijaya menjadi negara yang maju di segala bidang dan terkenal sebagai negara yang besar.

Salah satu bangunan yang menunjukkan kejayaan dan kemajuan Sriwijaya adalah adanya Candi di Muara Takus yang berbentuk stupa di hulu sungai Kampar. Berakhirnya kerajaan Sriwijaya ialah karena :

  • Serangan Raja Kerta Negara dari Singasari
  • Serangan Raja Rajenra dari Colamandala (India)

Pada tahun 1025 waktu Raja Sri Sanggrawijayatunggawarman diserang oleh Raja Rajendra dari colamandala. Pada waktu itu kerajaan Sriwijaya belum jatuh, tetapi sudah lumpuh. Selanjutnya pada tahun 1275 Kertanegara dari Singasari juga menyerang Sriwijaya dan menyerebu Melayu yang merupakan bagian dari Sriwijaya, sehingga kerajaan Sriwijaya bertambah lemah.

Akhirnya pada tahun 1377 berakhirlah masa pemerintahan dan kerajaan Sriiwijaya.

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag . Tandai permalink.