Serangan di Waktu Fajar, 11 Januari 1833

Letnan Kolonel Vermeulen Krieger adalah seorang perwira tentara Hindia Belanda yang cukup tangguh. Sejak berumur belasan tahun dia telah masuk tentara dan baru mengundurkan diri setelah berpengalaman hampir setengah abad. Ia iktu dalam banyak pertempuran di Eropa Barat, termasuk serangan ke Rusia di bawah kepemimpinan Napoleon tahun 1812. Stelah itu, dia masuk tentara Hindia Belanda dan kira-kira 30 tahun kemudian dikirim ke Sumatra Barat untuk bertempur dalam Perang Pidari.

Menarik sekali kesan-kesan perwira ini tentang peperangan yang ditulisnya setelah dia pensiun sebagai jenderal, termasuk yang paling sulit, yang paling tidak dapat dilupakannya. Peristiwa itu merupakan peristiwa yang paling mengerikan selama karier kemiliterannya yang panjang. Ini disebabkan serangan serentak kaum Pidari suatu pagi, dikala fajar sedang menyingsing tanggal 11 Januari 1833. Dia berangkat ke Sumatra Barat dengan pasukan besar bulan Juni 1832, untuk membantu memenangkan peperangan melawan golongan kaum Pidari yang telah berkecamuk sekitar 10 tahun. Bulan berikutnya, dia dapat menguasai Lintau yang hingga saaat ini senantiasa gigih menentang tentara Belanda. Setelah beberapa kali dipukul mundur dengan korban yang cukup banyak, dia berhasil pula merebut Bukit Kamang (29 Juli). Bulan September, dia menguasai XII-Koto, disusul Tanjung Alam dan Barulak (10 Oktober). Waktu itu, Bonjol sudah dikuasai oleh Belanda, begitu pula sebagian utara Sumatra Barat. Bulan Desember 1832, Vermeulen Krieger diangkat menjadi wakil komandan sipil dan militer untuk Padang darek. Singkatnya, kesulitan yang dideritanya sewaktu mundur dari Pisang selama perang Pidari, tidak kalah hebatnya dibanding waktu dia mundur dari Moskow sewaktu ia tergabung dalam tentara Napoleon. Pada akhir tahun 1832, kelihatannya perlawanan Pidari tidak lama lagi akan dapat digulung Belanda, hanya menunggu waktu. Dapat dimengerti bahwa semua laporan Elout (pimpinan pemerintahan sipi dan militer di Sumatra Barat) ke pusat sangat optimis. Pemerintahan di Betawi percaya saja dan yakin perang di Minangkabau akan segera berakhir, hingga terjadi serangan fajar itu!. Suatu serangan serentak terhadap pos-pos tentara kolonial dilakukan secepat kilat dan beringas. Serangan dimulai pada subuh hari, tanggal 11 Januari 1833, dan dalam waktu hanya 24 jam dapat membinasakan ratusan tentara Belanda.

Serangan kilat ini dikemudian hari ternyata membawa perubahan sangat besar dalam politik Pemerintah Sumatra Barat. Gubernur Jenderal/Komisaris Jenderal J. Van den Bosch yang saat itu seolah terbuai oleh laporan-laporan optimis yang selalu datang dari padang, mendadak terbangun. Seperti kita ketahui, dia sendiri kemudian datang berkunjung ke Minangkabau. Sesampainya disana matanya terbuka. Sebenarnya Belanda dapat saja menang di banyak pertempuran, tetapi mengapa tidak pernah kunjung menang perang. Mentalitas rakyat yang dihadapi di sana berlainan sekali dengan yang ada di Jawa. Adat istiadatnya pun tidak sama. Pada waktu itu, timbul keyakinan bahwa Perang Pidari tidak akan dapat dimenangkan dengan kekuatan senjata belaka. Cara lain yang lebih licik juga harus ditempuh. Muncullah Plakat Panjang dengan begitu banyak janji muluk yang berhasil menjebak rakyat. Selain itu, serangan fajar tersebut juga merupakan awal pertentangan berlarut-larut antara golongan sipil dan golongan militer. Mereka saling tuduh menuduh, saling mencurigai, dan saling berusaha mencari kambing hitam.

Seperti telah disinggung sebelumnya, akhir tahun 1832, keadaan Sumatra Barat termasuk bagian utara, sudah dianggap aman. Tiba-tiba Letkol Vermeulen Krieger kaget mendengar satu pasukannya dalam perjalanan binasa diserang musuh. Beberapa hari kemudian, tanggal 5 januari 1833, sebuah pasukan lagi yang terdiri atas 40 tentara Eropa ditambah dengan sebagian pasukan Sentot, juga dibinasakan Pidari, di daerah antara Pisang dan XII-Koto. Celakanya, pasukan ini kebetulan membawa uang untuk membeli bekal, kebanyakan bahan makanan, seperti garam, minuman, dan beras. Semua berita ini membuat Vermeulen Krieger gusar. Dia pun segera memutuskan untuk menyelidikinya sendiri. Pasukan yang dibawanya terdapat kira-kira 60 orang eropa.

Dalam perjalanan, dia mulai merasa curiga karena para kepala pasukan di berbagai desa yang disinggahinya tidak muncul kalau dipanggil. Tanggal 10 Januari, di Matur, juga begitu. Pemimpin-pemimpin pribumi terkenal yang memihak kepada Belanda tidak datang waktu dipanggil Letkol itu. Pagi-pagi sekali hari itu juga dia meneruskan perjalanan ke Pisang. Dari komandan pos di sana dia mendapat laporan cukup aneh, banyak masyarakat termasuk kepala kampung mereka melarikan diri kepuncak-puncak gunung yang sulit didaki. Dalam situasi seperti itu, tiba-tiba seorang letnan datang melapor bahwa pasukannya di tengah jalan mendadak diserang musuh. Vermeulen Krieger merasa sesuatu bakal terjadi, lenan tadi segera di suruhnya kembali ke posnya, tetapi terlambat. Sebelum sampai, seluruh pasukannya musnah dibabat orang-orang Pidari. Pagi-pagi kebetulan juga dlam perjalanan, yaitu dari Rao lewat Lubuk Sikaping ke Parimanan juga musnah dibinasakan. Semua pos Belanda terpenting di bagian utara Minangkabau, seperti Bonjol, Rao, Lubuk Sikaping, Lundar, Manggopoh, Lubuk Ambalu, Talu, dan Sundatar, semuanya secara kilat diserang dan dibinasakan orang-orang Pidari dalam suatu serangan serentak di waktu fajar menyingsing tanggal 11 Jnuari tahun 1833.

Vermeulen Krieger sebagai orang tertinggi di padang Darek merasa betul bahwa dia seakan terkurung di suatu desa terasing dan dikelilingi musuh. Dia harus secepat mungkin kembali ke markasnya, apa pun yang akan terjadi. Sebelum berangkat, dia mengutus orang-orang menemui para kepala pribumi, yang merupakan teman-teman Belanda, untuk dibujuk. Mereka dijanjikan uang dan kedudukan, asal tidak membantu musuh di saat kritis yang dialaminya ketika itu. Akan tetapi, hasilnya sangat mengecewakan letkol itu. Tuanku nan Tinggi bersama Letnan Temenggung Prawirodirjo dari barisan Sentot, yang kebetulan untuk melaporkan keadaan genting, juga disuruh menjalankan misi yang sama. Akan tetapi, sambutan rakyat sangat mengagetkan. Sudah syukur mereka tidak dibunuh dan berhasil kembali untuk melapor.

Tidak ada jalan lain bagi Vermeulen Krieger, kecuali bersiap untuk bertempur. Untuk itu, dia terlebih dahulu harus melapor kepada atasannya di Padang, Kolonel Elout. Selain itu, ia juga mengirim ke pos-pos belanda lainnya meminta bantuan tentara, tambahan sejata, bahkan makanan, dan sebagainya. Di antaranya kepada Regen batipuh, ia meminta bantuan tidak kurang 1.000 pasukan. Untuk tugas mengirim surat-surat ini, disediakan pasukan kecil di bawah pimpinan Abdul kadir. Akan tetapi, sekitar jam 3 pagi, tanggal 12 Januari, sebelum Abdul kadir berangkat, masuk petugas piket menghadap Vermeulen Krieger dengan membawa seorang anak kecil. Ternyata, anak itu berasal dari pos Belanda di Bonjol. Dari cerita anak kecil itu mendengar serangan serentak di pagi hari oleh orang-orang Pidari. Menurut cerita anak itu, seluruh pasukan Belanda di Bonjol mati dibunuh orang-orang Pidari. Kebanyakan mereka sedang tidur di tangsi (sebuah masjid Bonjol yang mereka gunakan dan kotori, seperti terungkap nanti merupakan salah satu penyeban Pidari bertindak begitu sengit dan kejam) sewaktu terjadi serangan. Lebih kurang 50 orang mati terbunuh, termasuk 27 orang kulit putih. Mendengar kabar buruk ini, Abdul Kadir diperintahkan untuk segera berangkat. Sayangnya, baru setengah jam pergi, terpaksa kembali karena pasukannya dihadang oleh musuh yang jauh lebih kuat. Dalam peristiwa itu, empat tentara Abdul Kadir tewas. Dengan kejadian tersebut, Vermeulen Krieger pada saat itu juga mengambil keputusan untuk segera berangkat sebelum daerah itu ditutup dan dikepung oleh musuh.

Jalan terbaik untuk mundur kembali ke markasnya di Agam ialah melalui XII-Koto. Namun, sebuah jembatan penting di sana telah dihancurkan Pidari. Mereka terpaksa mengambil jalan lain, yaitu melewati VII-Lurah. Aba-aba berangkat diberikan pukul delapan pagi. Begitu meninggalkan Pisang, pasukannya terus-menerus digempur musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dan menguasai penuh lapangan. Tentara Belanda dihantam sampai babak belur oleh orang-orang Pidari. Hal ini menyulitkan tentara kolonial yang berada di lapangan. Ditambah lagi turun hujan terus-menerus. Hal ini membuat pasukan pembantu pribumi melarikan diri dan bekal makanan tidak ada lagi serta bantuan tentara yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Namun, Vermeulen Krieger pantang menyerah. Dalam keadaan seburuk itu, dia tetap mengadakan perlawanan. Itu sebabnya dalam buku-buku sejarah militer Hindia Belanda “Mundur dari Pisang” dijadikan sebagai contoh semangat tempur dan pantang menyerah seorang komandan, yang dijadikan suri tauladan bagi para perwira muda. (tidak semuanya beranggapan demikian, ada juga yang menyalahkan Vermeulen Krieger, yaitu karena salah perhitungan). Mlah, dalam buku-buku sejarah perang kolonial Belanda, “Mundur dari Pisang” itu, kepada kita dinyatakan sebagai “kemenangan”. Entah apa maksudnya! Memang, kepada kita selalu diajarkan bahwa Belanda itu boleh dikatakan tidak pernah kalah. Kira-kira delapan tahun kemudian , tentara Belanda mengalami kekalahan luar biasa sewaktu Pemberontakan Batipuh. Benteng mereka di Guguk Malintang berhasil dimasuki para pemberontak dan kemudian entah apa sebabnya benteng itu meletus, yang mengakibatkan semua tentara yang ada di dalamnya tewas. Walaupun Belanda mengakuinya, tetap saja mereka menganggap ini sebagai suatu “kemenangan”. Malah, mereka mendirikan tugu khusus untuk memperingati peristiwa itu. Alasannya, konon menurut mereka, benteng tersebut diledakkan oleh tentara Belanda sendiri. Malah disebut tiga nama yang “mengorbankan diri” hingga tewas. Ketiga orang itu tidak satupun orang Belanda!

Dengan lunglai dan tertatih-tatih, Vermeulen Krieger bersama empat perwira dan sebilan serdadu, akhirnya dapat juga memasuki benteng di Bukit Koriri (Agam). Rupanya, hanya orang-orang inilah yang tersisa dari pasukan yang semula terdiri atas 110 jiwa, tidak termasuk pasukan bantuan bangsa pribumi. Dengan demikian, berakhirlah Perang Pidari di Minagkabau, yang berlangsung sekitar 15 tahun dan memakan banyak korban di kedua belah pihak, baik nyawa maupun harta.

Sebagai akibat serangan di waktu fajar bulan Januari 1833 itu, seluruh daerah Sumatra Barat bagian utara (tidak termasuk kota-kota pantai), jatuh kembali ke tangan kaum Pidari. Pasukan Belanda yang beruntung tidak binasa, melarikan diri ke benteng-benteng lebih kuat, seperti ke Tiku, Air Bangis, Natar, dan Pariaman atau ke Mandailing lebih ke utara lagi.

Vermeulen Krieger, setelah pensiun, menulis peristiwa mundurnya tentara Belanda dari Pisang. Dia menulis bahwa pengalamannya paling getir, paling berat selama jadi tentara hampir 50 tahun, sewaktu mundur dari Pisang, tidak kalah getirnya dibandingkan waktu dia mundur dari Moskow tahun 1812, sebagai tentara Prancis sewaktu ia bergabung dalam tentara Napoleon. Kalau dia sendiri menulis begitu, Anda percaya kan!?

(Sumber:Cerita-cerita Lama-Oleh Rusli Amran)

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag . Tandai permalink.