Pandaisikek

Sewaktu orang kulit putih mulai mengembangkan ajaran mereka di Minangkabau, Pandaisikek, desa kecil di VI-Koto, menjalanan peranan yang cukup besar. Selama perang melawan Belanda juga demikian. Karena letaknya sangat strategis, yaitu di antara Merapi dan Singgalang, yang menguasai hubungan penting antara Bukittinggi dan pesisir melalui Padang Pajang, di Pandaisikek ini sering terjadi pertempuran. Beberapa kali Belanda berusaha untuk merebut daerah ini, tetapi selalu gagal. Akhirnya, Pandaisikek berhasil diduduki tanpa kekuatan  senjata, tetapi secara diplomatis. Sewaktu terjadi pemberontakkan menyeluruh pada tahun 1833, tentara Belanda dipukul mundur pula dari sana, tetapi kemudian berhasil direbut kembali. Akhir abad yang lalu, sewaktu dimulai pembicaraan akan diadakan pungutan pajak langsung, rakyat menentang dengan hebat, antara lain dari Pandaisikek sehingga rencana tersebut terpaksa ditunda. Ketika terjadi pemberontakan Pajak tahun 1908, rakyat disana juga tidak tinggal diam. Begitu pun sewaktu serangan atas Pandang Panjang tahun 1915, orang-orang Pandaisikek menjalankan peranan. Jadi, di dalam sejarah perjuangan  Sumatra Barat melawan penjajah, Pandaisikek dapat disejajarkan dengan Manggopoh, Marapalam, Kamang, Pauh/Koto Tangah dekat Padang, Kapau, Kinali, Matur, Bonjol, Lintau, dan tempat lain yang ada hubungannya dengan sejarah revolusioner. Oleh karena itu, Pandaisikek tidak hanya terkenal karena tenunan dn ukiran kayunya, tetapi juga karena perjuangan melawan Belanda.

Dalam buku-buku sejarah yang disponsori Pemerintah Hindia Belanda dahulu, tentaranya terlalu diagungkan, walaupun harus diakui bahwa para perwira tentara tangguh dan berpengalaman. Kalaupun ada kekalahan di Sumatra Barat misalnya, selalu disusul dengan macam-macam faktor yang menerangkan penyebab kekalahan itu. Biasanya, Belanda mengatakan orang pribumi menghianati mereka karena menyerang secara mendadak, pasukan Melayu Pembantu Belanda yang pengecut, alam yang ganas, cuaca buruk, tentera belanda terlalu letih dan sebagainya. Kalau penulisnya tentara Belanda sendiri seperti ( Schoemaker, Lange, Van der Hart, Hendriks, atau Brakel), pertentangan bahkan dilihat diantara dua golongan saja, yang baik melawan yang jahat. Tidak dikemukakan kekurangajaran serdadu mereka terhadap para wanita kita ataupun penghinaan terhadap agama ataupun penghinaan yang diterima para pemimpin kita dari pihak mereka. Perang Pidari berlangsung selama 15 tahun. Setelah itu, baru berhasil dimenangkan Belanda seluruhnya, antara lain disebabkan ulah tentara Hindia Belanda yang tidak senonoh. Dengan pimpinan perwira yang terlatih, dengan persenjataan mutakhir dan di bantu lagi oleh puluhan ribu laskar Melayu, dan dengan kepintaran mereka memanfaatkan spion-spion bangsa kita, Belanda dapat mengakhiri peperangan lebih cepat. Akan tetapi, banyak orang yang telah memihak Belanda kemudian mendekati kaum putih karena tidak tahan terhadap tingkah laku pasukan Belanda yang kurang ajar. Namun, tidak stu katapun buku-buku sejarah kaum penjajah mengungkapkannya.

Untung tidak semua tulisan bekas tentara Belanda bernada demikian. Mungkin karena berupa karangan-karangan liar sehingga tidak tergolong sebagai buku sejarah. Ada beberapa perwira Belanda yang mengemukakan keadaan sebenarnya. Salah satu adalah catatan harian Jenderal Van Geen yang diumumkan setelah dia meninggal, mengenai sebuah kisah pendudukan Belanda di desa terkenal yang menjadi pokok penulisan ini, yaitu Pandaisikek. Bukan mengisahkan tentang pertempuran hebat, melainkan tentang hubungan antara manusia di celah-celah perang besar.

Van Geen sendiri, sebelum berumur 20 tahun, sudah pernah ke Indonesia sebagai tentara. Ia ikut bertempur di Palembang, Sulawesi, Sumatra Barat, dan Pulau Jawa. Sebagai Letnan dua dan ajudan Kolonel Raaff, ia pernah bertempur dan mengalami pukulan hebat oleh Pidari di Marapalam. Dia menderita banyak luka di badannya. Tahun 1830, ia kembali ke Eropa dan ikut dalam perang Belanda melawan Belgia. Ia pensiun sebagai letnan jenderal pada tahun 1864.

Sewaktu dihajar pasukan Pidari di Marapalam, dia mengakui secara terus terang keberanian musuh selama perkelahian satu lawan satu. Dia juga mengemukakan para perwira dan serdadu Belanda yang pengecut. Van Geen sendiri terus menggelengkan kepala, tidak mengerti mengapa Pidari tidak menghajar terus ketika pasukan Belanda mundur tidak teratur. Seandainya kaum putih terus memburu musuhnya, niscaya kesalahan Belanda lebih besar dan senjata perang akan lebih banyak jatuh ke tangan mereka.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya yang akan ditulis adalah peristiwa pendudukan Pandaisikek secara damai. Pasukan Belanda 150 infantri bangsa Eropa, 150 orang Madura, dan 1000 orang bangsa Melayu, lengkap dengan meriam, dibawah kepemimpinan seorang mayor siap menyerang jika Pandaisikek tidak menyerah. (Perjanjian damai Belanda dan Bonjol baru saja ditandatangani di Padang. Jadi, tindakan musuh ini sedikit aneh. Jenderal De Stuers di dalam bukunya mengakui bahwa penduduk Koto Laweh dan Pandaisikek melanggar perjanjian yang baru saja ditandatangani). Kebetulan diantara pasukan yang siap menyerang itu terdapat seorang penjabat penting yang mempunyai pengaruh cukup besar, bernama Letnan Kolonel Nahuijs van Burgst. Dia kebetulan sedang berada di sana dalam perjalanan dinasnya ke berbagai daerah. Nahuijs ini di dalam buku yang ditulisnya kemudian, juga menceritrakan perihal sekitar Pandaisikek.

Tanggal 28 Februari 1824, tulis Van Geen kita berangkat ke Tabu Berair, tempat berkumpulnya seluruh tentara dalam ekspedisi ini.keesokan harinya, bergerak menuju Guguk Sigandang, kurang dari jarak jangkauan pelor mariam dari Pandaisikek dan mendominasinya. Tidak disangka kubu-kubu di Pandaisikek tidak dalam keadaan siaga. Tetapi begitu kami menggerek si tiga warna di Guguk Sigandang, terdengarlah hiruk pikuk. Dengan menabuh gong, banyak sekali kaum berbaju putih menduduki tempat-tempat pertahanan mereka. (Kita ingatkan lagi, perjanjian perdamaian baru saja ditandatangani di Padang). Kami merasa segera akan dihujani peluru-peluru meriam mereka. Tetapi ternyata tidak, yang kelihatan hanyalah orang-orang bersenjatakan senapan dan tombak keluar dari benteng mereka dan menduduki bukit kecil sebelah kanan kami. Mereka itu dapat diusir oleh sejumlah tentara di bawah seorang perwira dengan seorang Melayu sebagai penunjuk jalan. Kami heran sekali melihat orang Melayu ini, seorang dubalang yang tidak mempunyai perasaan takut sama sekali. Bisanya para dubalang ini berbusana merah, sering didapati di sekeliling para kepala mereka. Sayangnya, keberanian mereka lebih menonjol dibandingkan otak mereka.

Setelah beberapa jam di Guguk Sigandang, tanpa menembak satu pelor pun, empat pejuang Pidari dengan senapan dan tombak di tangan mendekati posisi kami. Melihat aba-aba dengan tangan yang mereka berikan, jelas mereka ingin berbicara denga kami. Kami mengisyaratkan untuk mendekat, tidak akn diapa-apakan. Namun mereka tidak percaya, Letnan Kolonel Nahuijs yang pintar berbahasa Melayu percaya bahwa maksud keempat orang itu baik. Dia (Nahuijs) turun melalui jurang yang terjal mendekati orang-orang Pidari itu. Kami menyerukan agar dia jangan mendekati musuh. Pasti akan dibinasakan karena orang Melayu tidak dapat dipercaya. Tetapi Nahuijs tetap saja berjalan, bahkan setelah dekat dia melemparkan pistol dan pedangnya. Berarti dia datang dengan tujuan damai. Anehnya, Nahuijs disambut dengan gembira, mereka bersalaman hangat dan membuka pembicaraan. Kemudian datang lagi banyak pejuang Pidari. Semua berakhir dengan didudukinya Pandaisikek secara damai oleh kami.

Melihat pengalaman ini, meneruskan Van Geen, kaum Pidari tidak securang seperti yang selalu digambarkan. Satu contoh lagi adalah apa yang dialami Letnan Van Ochsee. Dia tersesat masuk sebuah kampung yang beberapa saat sebelumnya memutuskan memihak Pidari. Letnan tersebut tidak ditangkap atau dibinasakan. Tetapi dengan baik-baik dipersilahkan meninggalkan kampung. Soal seperti itu juga terjadi beberapa bulan sebelumnya, di sebuah kampung di daerah Pandaisikek. Penduduk kampung itu bersama kami mengalami kekalahan dalam satu pertempuran. Tanpa kami ketahui, mereka rupa-rupanya setelah itu berhubungan dengan pihak musuh. Satu pasukan di bawah seorang perwira yang sedang ronda, suatu malam, tanpa curiga masuk kedalam kampung tersebut. Sebetulnya pasukan kecil itu dengan gampang bisa mereka habisi , namun ini tidak dikerjakan, mereka hanya dipersilahkan pergi saja dengan catatan tidak boleh mengharapkan bantuan lagi dari pihak mereka karena mereka telah memutuskan memihak Pidari.

Jatuhnya Pandaisikek kita sebut tadi, tidak berjalan begitu lancar. Suatu ketika kami memberikan Ultimatum kepada wakil Pandaisikek :”kalau pukul 8 malam belum juga menyerah, kami akan menggempur dengan meriam!” Mayor Laemlin sudah ingin menggempur pada jam tersebut tetapi ditahan Nahuijs. Dia mengusulkan agar menunda hingga besok pagi. Pukul dua dini hari, muncullah utusan terakhir Pidari yang meletakkan beberapa senjata mereka dikaki kami tanda menyerah. Tanggal 1 Maret kami memasuki Pandaisikek. Ternyata perbentengan mereka begitu hebat. Pasti akan memakan waktu dan banyak korban jika diserang dengan senjata.

Koto Laweh tidak seberapa jauh dari Pandaisikek, tetapi dengan perbentengan yang sangat lemah, juga ingin ditaklukkan oleh pasukan Mayor Laemlin secara diplomasi. Akan tetapi, ditolak oleh desa ini. Akhirnya, satuan cukup kuat harus menyerebu, didahului tembakkan meriam yang gencar, kemudian disusul dengan serangan bayonet terhunus. Didalam pertahanan Koto Laweh, terdapat banyak wanita dan anak-anak. Van Geen sangat heran melihat kepintaran rakyat pribumi mempergunakan alam untuk pertahanan. Karena hebatnya membuat perbentengan inilah, dua kali serangan Belanda sebelumnya terhadap Pandaisikek dapat dipukul mundur.

Setelah Koto Laweh jatuh ketangan kami , melanjutkan kembali Van Geen, seorang Pidari tanpa senjata berhasil ditangkap para serdadu kita. Orang ini ingin dibunuh secara perlahan-lahan disiksa selama mungkin. Ini dilihat oleh Nahuijs. Ini sangat sulit sekali, Letkol ini berhasil agar orang tak berdaya itu dilepaskan saja, kemudian diangkut ke Tabu Berair. Dia sangat berterima kasih karena nyawanya diselamatkan. Tidak lama kemudian masuklah seorang Melayu perlente bernama Tuanku Ali, pengikut Belanda setia. Dia ingin melihat dari dekat tawanan dari Pandaisikek tadi. Ternyata, orang itu adalah saudara kandungnya sendiri. Umumnya kaum Pidari banyak pula mempunyai saudara yang memihak kita. Ini jelas terlihat setelah kami menduduki Pandaisikek. Pandangan mengharukan melihat mereka berpelukkan yang sebelumnya berada dipihak-pihak bermusuhan.

Tuanku Damassing melarikan diri ke desa kecil di belakang Koto Laweh. Desa in kami keliling. Keesokan harinya, Tuanku Damassing menyerah kepada kami. Beliau diizinkan berdiam di VI-Koto tetapi tanpa kekuasaan apa-apa. Namun dia bebas menganut agama apa saja.

Demikin secuil pengalaman Van Geen. Pada tahun 1830, ia sudah kembali ke Eropa. Karena itu, ia tidak mengalami pemberontakkan dahsyat pihak Pidari tahun 1833. Pandaisikek, Guguk Sigandang, Koto Laweh, dan banyak pos Belanda berhasil direbut kembali oleh kaum putih dengan banyak memakan korban dimana-mana pasukan Belanda terbirit-birit mundur kepertahanan-pertahanan yang paling kuat. Apa yang dialami Van Geen di Marapalam(sewaktu musuh sedang kalah, kaum Pidari tidak pernah mengejar untuk menghancurkan), dimana-mana terulang kembali. Belanda selalu diberi kesempatan menunggu bantuan dan mempersiapkan serangan balasan yang dahsyat. Van Geen juga tidak melihat ketika Tuanku Damassiang beserta kedua putranya dan dua belas orang lagi dibunuh Belanda secara kejam di Guguk Sigandang. Mereka adalah musuh yang berhasil ditawan dalam peperangan. Mereka bukan penjahat! Akan tetapi, kehebatan rakyat untuk kesekian kalinya mengusir Belanda dari Guguk Sigandang dan Pandaisikek, membuat musuh bermata gelap.

(sumber: Balai Pustaka, oleh Rusli Amran)

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag . Tandai permalink.