ANGKOR, Kamboja

Angkor, Kamboja (didirikan pada tahun 820 M).

 

Angkor Wat

Ibukota Kekaisaran Khmer (Kamboja) dari abad ke-9 hingga ke-15, kota Angkor ditingglakan setelah pasukan Thai merampoknya pada tahun 1431. Sisa-sisa kota yang masih ada tetap menjadi lokasi yang baik, meskipun telah dirusak oleh perang baru-baru ini, untuk mempelajari kebudayaan luarbiasa yang pernah hidup dan dipuja disana.

 

Dianggap sebagai sebuah pusat keagamaan yang berbasiskan prinsip-prinsip India mengenai kosmologi, kota ini dibangun disekitar sebuah monumen pusat yang terletak di atas bukit Phnom Bakheng. Monumen-monumen indah yang banyak terdapat di sekitarnya adalah pusat pemujaan baik terhadap tokoh-tokoh mitologi India maupun Kerajaan, yang dianggap sebagai perwujudan dari dewa dewi abadi. Melalui sisa-sisa periode pembangunan terbesar kota itu, yang berlangsung selama lebih dari 300 tahun, perubahan-perubahan dalam arsitektur dan pemujaan dapat dilacak. Meskipun kuil-kuil yang penuh ukiran dan hiasan pada awalnya  dikaitkan dengan dewa Hindu yakni Siwa, namun belakangan mereka melayani Dewa Wisnu dan kemudian sebuah aliran Buddha Mahayana yang menyembah Budha Avalokitewara.

Yang paling termasyur dari kuil-kuil ini, Angkor Wat, dimana Suryawarman II dipuja dan dianggap sebagai dewa Wisnu, masih cukup lengkap, bahkan setelah pasukan Thailand yang berpangkalan di luar kerajaan bagian barat mulai menyebar  ke dalam jantung wilayah Khmer. Para pemeluk agama di Khmer mulai lebih menyederhanakan bangunannya sebagai gambaran cara hidup Buddha. Para pendeta Buddha Theravada berhasil menyelamatkan Angkor Wat serta menjaganya setelah kejatuhan kota, dan kelak menimbulkan keingintahuan orang mengenai “kota yang hialang” yang seolah-olah bersembunyi di hutan rimba Kamboja.

Pada tahun 1863, ketika rezim kolonial Perancis mengambil alih Angkor, minat para pencinta ilmu pengetahuan  membawa sekelompok arkeolog Perancis kesana untuk menyingkap sejarah kota itu dan berupaya merehabilitasi kuil-kuil kuno-nya. Bersama-sama dengan monumen-monumen, yang semuanya bersifat agamis dan dipersembahkan bagi para raja Khmer, banyak saluran air, kanal dan parit ditemukan, memperkuat kepercayaan bahwa para penduduk kota ini sudah memiliki kebudayaan yang maju dan hidup makmur.

Serangkaian perang yang terjadi dimasa kini sekali lagi mengancam keberadaan lokasi bersejarah ini, sebagaimana ancaman yang datang dari pencurian dan kelalaian, dan rimba-pun mengancam untuk “menelan” Angkor lagi.

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di 100 Kota Besar Bersejarah di Dunia dan tag , . Tandai permalink.