BAGHDAD, IRAK

 

Baghdad

Pada abad-abad ke 8 dan ke 9, Baghdad dianggap sebagai kota terkaya di dunia. Para pedagang dari Cina, India dan Afrika Timur bertemu disini, saling menukarkan benda-benda kebudayaan mereka dan melambungkan Baghdad menjadi sebuah renaisans intelektual. Rumah sakit dan sebuah observatorium dibangun , para penyair dan artis dibina, dan karya-karya besar Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

 

Kisah Seribu satu malam, termasuk cerita Sinbad yang termasyhur, melambangkan kehebatan kebudayaan Baghdad selama masa keemasannya sebagai pemimpin dunia Arab dan Islam yang diakui.

Kota Baghdad abad pertengahan dibangun oleh Khalifah Abbasiyah al-Mansur, kalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah, melintasi baik tepi Barat maupun Timur Sungai Tigris. Dikitari oleh tiga tembok benteng, kota ini terbagi menjadi empat bagian yang sama, dengan empat jalan utama mengarah dari istana Kalifah ke arah mesjid agung dan terus menyebar ke seluruh Irak. Meliputi kira-kira 2 mil pada tepi timur antara gerbang Alun-alun al Mu’azzam di Utara dan Alun-alun ash-Sharqui di Selatan, kota kuno Baghdad masih dapat dikenali di dalam istana Abbasiyah yang berasal dari akhir abad ke 12 atau abad ke 13, di dalam basaar-basaar yang penuh tembaga dan emas, serta di mesjid-mesjid dan tempat mandi umum, yang dibangun selama empat abad kekuasaan Ottoman (1535 hinga 1918).

Dari puncak kejayaannya di bawah para kalifah Abbasiyah, kota ini mulai melemah di abad ke 10. Panen yang rusak dan perselisihan intern mengarahkannya kepada keruntuhan. Setelah dirampok oleh orang-orang Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, cucu Jenghis Khan pada tahun 1258, Baghdad kemudian diambil alih oleh pasukan Turki Ottoman, yang memasukkan Baghdad sebagai bagian kekaisaran mereka pada tahun 1535.

Setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman pada tahun 1918, pengaruh Eropa merubah wajah kota. Pada tahun 1920, Baghdad, yang telah bertumbuh dari sebuah lokasi tertutup seluas 254 mil persegi (657 kilometer persegi) menjadi ibukota dari negara baru Irak. Kebutuhan dunia akan minyak memberikan Baghdad suatu kekuatan baru dalam perekonomian internasional di tahun 70’an. Di bawah pemerintahan orang kuat Saddam Hussein, Irak mengalami perang menyakitkan melawan Iran pada tahun 80’an dan Kuwait pada tahun 1990. Yang terakhir ini menjadi penyebab dari perang teluk Persia di tahun 1991, yang memicu terjadinya gelombang serangan udara besar-besaran atas infrastruktur transportasi dan komunikasi Baghdad.

Pada tahun 1990, kota Baghdad dihuni oleh 4,5 juta penduduk yang terus bertumbuh, dibandingkan dengan tahun 1890 yang hanya berjumlah 180.000 jiwa.

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di 100 Kota Besar Bersejarah di Dunia dan tag , . Tandai permalink.