Bangkok, Thailand

Bangkok didirikan pada tahun 1782 ibukota dan pelabuhan utama Thailand, dikenal dunia internasional untuk kesopan santunan dan keramahan penduduknya. Dianggap sebagai kota yang penuh dosa karena terlalu banyaknya kesenangan-kesenangan sensual, Bangkok telah menarik para pencari kesenangan terbesar didunia. Bahkan namanya sendiri sudah menggoda, Bangkok berarti “desa buah Prem liar”.

Berlokasi di delta sungai Chao Phraya, kira-kira 25 mil sebelah Utara Teluk Thailand, Bangkok 20 kali lebih besar dari kota kedua terbesar di Thailand. Disarati oleh kanal-kanal yang simpang-siur dan seringkali banjir, kota ini telah bertumbuh melampaui tembok-tembok aslinya hingga menjangkau tanah pertanian yang subur di sekelilingnya. Kota bagian dalam, dimana Istana Agung dari abad ke 18 pernah digunakan sebagai kantor pemerintahan, kini menampung tempat-tempat bisnis dan lebih dari 300 kuil Budha. Disebut wat, bangunan-bangunan ini, yang terbesar diseluruh Bangkok, menonjolkan ornamen emas, kubah-kubah tembaga yang dibakar, mosaik kaca dan keramik Cina. Gudang-gudang telah didirikan dikedua tepi sungai, dan sebuah pasar terapung beroperasi diantaranya, menjual makanan segar dan barang-barang kerajinan tangan.

Kota ini di masa lalu pernah dibagi menjadi dua pemerintahan kota yang dihubungkan dengan beberapa jembatan-Krung Thep di tepi timur dan Thon Buri di tepi barat- sampai tahun 1971, ketika Bangkok disatukan menjadi satu propinsi-kota. Kota metropolitan itu kini mempunyai luas 604 mil persegi (1565 kilometer persegi) yang dihuni oleh 5,9 juta jiwa pada tahun 1990, dibandingkan dengan 200.000 di tahun 1890. Penduduk Bangkok bersifat unik karena 2/5 lagi di bawah usia 20 tahun, dan 1/5 lagi dibawah usia 30. Kuota imigrasi luarnegeri ketat yang diterapkan setelah Perang Dunia II berhasil mempertahankan jumlah penduduk non-Thai di bawah 3 persen, memastikan karakter kota Bangkok yang unik.

Bangkok menjadi ibukota Siam (kini Thailand) pada tahun 1782, ketika pendiri Dinasti Chakri yang berkuasa bernama Rama I, memindahkan istananya dari tepi barat ke tepi timur. Rama II (1809-1824) dan Rama III (1824-1851) membangun lebih banyak lagi kuil, yang selain sebagai pusat keagamaan, juga digunkan sebagai area sekolah, rumah sakit dan rekreasi. Rama IV memperbaiki Istana Agung, membangun rumah-rumah kerajaan yang impresif dan membuat beberapa jalan baru, sedangkan Rama V (1868-1910) mengembangkan program pekerjaan bagi publik, yang menciptakan sebuah kota kebun pendukung dan banyak jalan raya serta jembatan guna mengakomodasi popularitas mobil yang meningkat. Rama VI (1910-1925) mendirikan Universitas Chulalongkorn (1916) dan sebuah sistem “penguncian” untuk mengontrol saluran air ke seluruh kota.

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di 100 Kota Besar Bersejarah di Dunia dan tag , . Tandai permalink.