Beirut, Lebanon

    Beirut, ibukota dan pelabuhan utama Lebanon berasal dari 3000 sebelum Masehi, ketika ia merupakan pelabuhan penting bagi orang Punisia. Penjajahan Romawi-lah yang pertama kali menarik perhatian orang kepada Beirut pada tahun 14 sebelum Masehi. Berlokasi diantara bukit al-Ashrafiyah dan al-Musaytibah, Beirut terletak disebuah lembah yang terlindung, dimana orang Romawi membangun saluran air bawah tanah untuk memasok penduduk kota yang terus bertumbuh. Beirut mendapat reputasi untuk sekolah hukumnya (yang ketiga sepanjang abad ke 6), tetapi mengalami kehancuran besar-besaran akibat serangkaian gempa bumi yang menyerang dengan cepat, dan berpuncak pada munculnya gelombang pasang pada tahun 551. Orang-orang Islam, yang memasuki Beirut pada tahun 635, umumnya hanya menemukan reruntuhan dan kemudian membangun kembali kota ini secara perlahan-lahan, memungkinkan berkembangnya sebuah pelabuhan dagang yang menjadi pelabuhan singgah utama di Siria bagi para sasudagar rempah-rempah Venesia.

    Revolusi Industri dan penduduk Mesir atas Siria pada tahun 1832 menggairahkan kembali peran penting kota itu dalam perdagangan yang meredup selama pemerintahan Ottoman Para pengungsi Kristen melarikan diri ke Beirut dari perang saudara di pegunungan – pegunungan Siria, sementara para misionaris Protestan dari Amerika Serikat, Inggris dan Jerman menambah jumlah penduduk kota ini. Pada akhir Perang Dunia ke I, yang menandai jatuhnya kekaisaran Ottoman Turki, Prancis menciptakan Negara Lebanon Besar, yang menjadi Republik Lebanon pada tahun 1926. Beirut berperan sebagai pusat perekonomian, sosial, intelektual dan kebudayaan di Timur Tengah antara 1952 hingga 1975. Sebuah pusat pariwisata, salah satu pemimpin perbankan, dan pelabuhan masuk utama untuk daerah sekitarnya, keberhasilan Beirut hancur secara tiba-tiba akibat munculnya perang terbuka antara kelompok – kelompok Islam dan Kristen. Perang Arab-Israel pada tahun 1967 menyeret organisasi-organisasi, perlawanan Palestina ke Beirut, yang memperoleh repotasi sebagai markas besar gerakan tersebut. Beirut menjadi wilayah perang yang dahsyat pada tahun 80’an. Berbagai pasukan milisi lokal, ditambah pasukan Israel dan milisi PLO (Organisasi Pembebasan Palestina), melaksanakan peperangan yang keji di Lebanon, mengakibatkan hancurnya sebagian besar Beirut Barat dan melumpuhkan kota yang pernah begitu hidup.

    Dimulai dengan populasi 100.000 jiwa di tahun 1890, kota ini mengalami pertumbuhan luarbiasa (bertambah 10 kali lipat antara tahun 1930’an hingga 1970’an). Namun dengan terjadinya perang saudara, jumlah penduduknya merosot hingga hanya mencapai 1,1 juta di tahun 1995.

Tentang maskapache

Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...
Pos ini dipublikasikan di 100 Kota Besar Bersejarah di Dunia dan tag , . Tandai permalink.